Labels.

Senin, 18 April 2011

Kerangka Kehidupan

Bergerak tanpa arah,  maju, mundur atau apapun yang akan membawa kedua kaki ini tetapi dirinya tetap tidak tau arah, selalu bingung, dipenuhi kebimbangan. Disini terdiam terkadang merenungi diri sendiri, tetapi terkadang terdampar disebuah dunia hampa khayalan yang seakan membuai ku kedunia alam bawah sadar. Menyadarkan bahwa semua tantangan hidup berada tepat didepan ku. Bukan sepi tapi tawa, aku melihat mereka tertawa bukan kepadaku tetapi kepada sosoknya. Sosok wanita yang tak tau arah, kadang melangkah maju tetapi terkadang dia hampa dan kembali berjalan terus kebelakang. Terpendamkah? semua seakan terlihat klise. Banyak kesempatan tetapi dibuang sia sia, harapan yang terhempaskan tetapi masih melekat erat di pelupuk jiwa.

Kerangka Kehidupan
Mata terlebih raga merasa lelah. Diam pun tak ada artinya lagi. Berhenti diribuan persimpangan melihat banyaknya bayangan hitam yang merasa ku kenal tapi tak mampu kusentuh. Kesenjangan memang tak berarti bagi semua orang tapi tak begitu denganku. Kini aku yang merasakan hal itu, bukan dirimu, atau pun bukan mereka .”Aku mampu merasakan apa yang jiwa dan ragamu rasakan” mereka berucap dengan mudahnya. Aku hanya menjawab dengan segenap ketenangan jiwa. Topeng topeng yang kalian pampangkan hanyalah sampah bermandikan bangkai bagiku. Kebusukan, dendam, arogan tak terlebih itulah yang ada dihati suci nan lembut milik mereka. Hujatan, ribuan pertanyaan menusuk relung relung jiwa, bagai hempasan dinginnya angin malam. Iblis menjelmakan sosok seorang malaikat, tangan berduri siap menerkam. Tangan menggenggam tak mampu berteriak. Yang terasa hanyalah panas, terkoyak dan tercabik.


Hitam tak selamanya hitam, tak selamanya jelas, dan tak selamanya gelap. putih tak selamanya putih, tak selamanya terang dan tak selamanya suci. Siapapun, apapun yang tuhan ciptakan didunia ini bukan tergantung kepada siapa pemiliknya, tetapi siapa yang mampu menghargai dan mampu mengikhlaskannya. Cahaya lilin kecil ataupun kobaran api membara itu tak ada bedanya, sama saja. Sikap dan watak pun sama saja. Perbedaan mendalam hanya akan terasa apabila tuhan tidak menghendakinya. Tuhan “aku ingin bahagia” . “selamanya” terlalu egois kah keinginanku? Meminta sebuah kebahagiaan kepadamu? Tak mesti dengannya, dengan pilihanmu pun aku akan bahagia. “Hanya bahagia tuhan” tidaklah lebih yang ku pinta. Abu abu tak selamanya dipenuhi kesamaran dan ketidakjelasan. Mungkin abu abu mempunyai makna tersendiri untuk menggambarkan jati dirinya. 

                                                                                         

                                                                                                                                      Yolanda Rizwany