Labels.

Minggu, 28 Juli 2013

Jika Dari Sebuah Pertanda

Ibarat biru melebur suramlah jawabannya, Pertanda dari sebuah pertanda
Terngiang dari sebuah ungkapan, Tersirat dalam biduk malu sang fajar
Jika Abadi menjadi sebuah perjalanan, Maka abadi Menggelarkan cerita
Jika Dari Sebuah Pertanda

Jika akhir menjadi jawaban, Maka awal menjadi pertanyaan
Jika diam menjadi sebuah keagungan, Maka hening adalah sebuah ketegasan, Jika mata selalu menegaskan, maka telinga selalu mendengarkan, Jika rindu menjadi alunan, Maka cinta adalah tempat bersemayam, Jika hati menjadi sasaran, Maka kata manjadi untaiannya, Jika suara mengusik renungan, maka rindu menjerit berteriak, Jika sukma memberi ingatan, maka raga melebur dan menggeliat, Jika cahaya berkaca dari jiwa, maka rembulan hanyut dalam insan , Jika tuhan menyimpan alunan kisahnya, maka kita merekamnya kedalan suatu dunia, Jika cerita ini menjadi selipan hidupmu, maka simpan dan ingatlah, Jika relung jiwa menghampirimu, Maka hadapi dan katakanlah, Jika ketakutan memilukanmu, Maka resapi dan renungkanlah, Jika hati tak mampu berbicara, maka diam adalah jawabannya, Maka jika aku mencintaimu, diam adalah jawabanku.


                                                                                                                                         Yolanda Rizwany


Kamis, 25 Juli 2013

Tersirat Dalam Sebuah Tulisan


Suatu tulisan akan menjadi bermakna apabila penulisnya menjalin satu ikatan makna ke ikatan makna lainnya. Ibarat akar pohon yang berada didalam tanah, seorang penulis tau persis posisi arah kata demi kata yang dirangkainya menjadi satu kesatuan utuh, yang orang lain belum tentu memahami dengan jelas apa maksud tulissan tersebut.

Tersirat Dalam Sebuah Tulisan
Penulis handal adalah mereka yang mampu menciptakan karya dari tangan seorang manusia yang cukup indah apabila dinikmati oleh khalayak banyak, penulis amatir adalah mereka yang cukup menuliskan apa isi yang tertera didalam benak dan tumpahan akal yang tersirat didalam emosi sesaaat, lalu mempublikasikannya kedalam sebuah dunia mereka. Yang jelas, dengan menulis seseorang mampu menumpahkan emosinya dengan pasti tanpa harus mengusik siapapun, dengan menulis jari jemari yang bertautan, akal yang beterbangan dan emosi yang perlahan tumpah dalam sebuah kata mampu menciptakan ribuan makna indah, ribuan kalimat pasti yang mampu mengedipkan jutaan mata pembacanya. Apapun itu, siapapun itu, nikmatilah hidup anda sebagai seorang penulis. Teruslah menulis dan rangkailah kata demi kata, makna demi makna menjadi sebuah perjalanan yang indah untuk dinikmati.

Sekian dari saya, terima kasih.
                                                                                                                                    Yolanda Rizwany

Minggu, 14 Juli 2013

Abaikan

Abaikan
biarkan semelir angin menjadi jawabannya
biarkan senja menghangatkannya
biarkan semuanya beriak seperti air
biarkan..
abaikan jika biru laut menggodamu
abaikan..
aku bukan memintamu meresapinya tapi mengabaikannya
abaikan..
ketuk sekali lagi pintunya
pasti terbuka
pasti..
titik mati hawa dingin yang menyelimuti mulai terasa
batas yang terasa tebal kini menipis
ya menipis..
fatamorgana terlalu indah untuk dijadikan cacahan nyata
gulungan awan yang membentang menjadi atapnya
entah..
entah apa yang dicarinya
terngiang dengan jelas..


                                                                                                                    Yolanda Rizwany

Rabu, 03 Juli 2013

Heningku Memadamkan Segalanya


Siang identik dengan udara menyengat, tapi tidak untuk hari ini, Beberapa celah mulai 
dimasuki oleh tinta tinta abstrak, Tapi kata terlanjur sudah melekat dalam ingatan
ya aku terlanjur menjadikan dia objekku, Hari demi hari berganti tapi objek 

Heningku Memadamkan Segalanya
yang ku tulis tak kunjung juga berganti, Ada apa gerangan? Tidak biasanya aku terlarut dalam panorama seperti ini, Aku mencoba menjelaskan kepada sekeliling, ya mungkin mereka bisa membuka akal sehatku kembali, Aku tergerak dari tempat tidurku, melihat jam dinding, Seketika mulai menulis apa yang aku lamunkan diatas kasur, Bayangan yang lain muncul, mulai menggusikku dengan segala akalnya, Aku tidak menjauhinya tetapi mulai terbesit didalam benak, Heningku memadamkan segalanya, Kobaran rasa ingin tahu tentang bagaimana sosok anda perlahan luntur begitu saja, Aku tidak ingin memulai semua ini, Tapi jiwaku hampir gila karna heningku yang tak terbatas, Sikap dingin mulai kuhilangkan, Perlahan tapi terjadi lagi, Kembali sikap itu menghantuiku, Bayangan sendu ku mulai terlihat, ya terlihat tapi nyata, Dan sepertinya belum berwarna, Lalu bagaimana dengan bayangan semu? Haruskah aku menutup lembaran untuknya perlahan, Mungkin..


                                                                                                                                                             
                                                                                                                                       Yolanda Rizwany