Labels.

Sabtu, 02 November 2013

Raib Dalam Ambang Batas

Terikat dalam beberapa kata yang hampir serupa bukan sama. Terucap dan terbesit ketika raga dalam kurungan. Raib dalam ambang batas. Raga mampu menjalar lalu melepas.
Jangan menuntut ketenangan jiwa
Raib Dalam Ambang Batas
Jika belum mampu membalikkan pandangan. Memutar alur lama kisah kemarin. Terputar disumbu dunia yang sama, tapi terputus diujung lidah.
Bukan itu yang ingin didengar angin
Bukan itu yang ingin dijamah jiwa
Bukan itu ! bukan.
Diam saja nikmati bahasa langit
Diam saja telusuri sampai pasti
BAHKAN LETIH SAJA TIDAK CUKUP MEREDAMNYA. Maka jangan bernafas dalam jiwa orang lain. Kala debu mengalir, berbisik dan senja senyawa dengan raga. Maka ketika rasa dan hati sejalan, seketika pikiran dan irama saling berdekatan. Angan dan hampa bergemerisik menjauh lalu mendekap kembali. Senyap rasanya, semelir jiwa terasa hangat menyapa. Sedingin kata saling menyapa. selembut mata bebas memandang. Ketika detik berjalan mundur dan menit melangkah maju.
Putar saja ceritanya. putar!
Ironi memang. tapi ironi selalu identik dengan kehidupan.
Kata naif bukan pujian, bukan rayuan dan bukan hujatan.
Naif itu nadi. Nadi yang pasti yang kau temui disetiap jiwa!


                                                                                                                                   Yolanda Rizwany



Tidak ada komentar:

Posting Komentar