Labels.

Sabtu, 29 Juni 2013

Sendu dan Semua Perkaranya








































Sendu itu datang ketika udara didalam rongga hati mulai terminimalisir oleh keadaan, Rasa itu umpama atau ibarat ketika sebuah kata mulai memudar, Sejenak melihat anda dari kejauhan, memandang dan menatap sesosok adam yang berdiri tegak searah dengan cahaya mata seorang hawa, Berada ditepi atau ditengah sama saja
Sendu dan Semua Perkaranya
tergantung dari sudut mana sang adam melihat hawanya, Kata bersajak, antonim, anonim, imbuhan ataupun kata penghubung belum cukup dengan jelas menggambarkan bayangan tegak yang sendu dilihat tapi mampu membuat jantung berdetak tak terkendali  bahkan dengan memalingkan pandangan sekalipun  detakan itu masih terasa begitu cepat, Tertahan dan masih tertahan dengan seribu perkara tentang sendu, Terkadang ingin berlari dan menghampiri bayangan semu diseberang sana, diseberang arah yang berlawanan, bayangan yang terasa asing namun masih setia berdiri tegak menunggu sang hawanya
Perlahan hati tergerak melangkah jauh menghindar, Namun sekali lagi bayangan sendu masih menahan ku disetiap sudut, setiap titik bahkan disetiap celah, Biarkan sang hawa menemukan bayangan sendu atau semunya sendiri, Biarkan hawa berpikir dengan logikanya sendiri, Sampai bayangan sendu atau semu menjadi bayangan pasti

Deretan Sajak Diakhir Juni                                                                
                                                                                                                             Yolanda Rizwany



Rabu, 26 Juni 2013

kali ini kosakataku terbatas

Biarkan logika berbicara, deretan kata pun terbuang percuma
Naluri membusuk didada, tetapi tetap membiarkan logika memulainya
Saat ini kosakataku terbatas, mungkin dia tau mengapa
Atau mungkin dia penyebabnya, anganku terus membendung
objeknya terlihat namun masih membayang, aku benci abstrak
Kali ini Kosakataku Terbatas
tapi abstrak punya seribu makna, yang mampu menggambarkan objekku 
Kata ingin terucap tapi perlahan
logika kembali menahan alurnya
Hati diam meninggalkan logika yang terus berjalan
Sajakku kali ini sedikit tidak bermakna
Terlalu monoton, aku kehabisan kata
Kata yang tak mampu tersirat,
tanganpun tak mampu menjamahnya
Terlalu lirih jika aku memintanya lagi
Tetapi naif jika aku memaksanya pergi
Ya sekali lagi aku terpaku mencari kata demi kata yang mampu kulontarkan
Mampu ku ingat tapi tangan kembali tidak ingin memakainya
Tak ingin menghempasnya, tapi tak mampu mengenggam bahkan menahannya
Aku ingin menyapa hujan bersamanya, mengalihkan pandangan
dan membangun kembali deretan kosakata yang ku punya

                                                                                                                                 
                                                                                                                                      Yolanda Rizwany




Kamis, 20 Juni 2013

Haluan tak berbayang

Bersajak yang tak pernah habisnya, Lupakan sejenak ingat selamanya
Haluan cerita lama belum usai bagaimana memulai deretan hamparan kisah baru
Haluan Tak Berbayang
Senja atau kelam cukup mengingatkan dua watak berbeda, Tikam atau menikam sebatas perbedaan kata bukan makna, Ribuan bahkan jutaan pasir siap dilewati, bukan menerjang atau menghempas hanya kejenuhan mengubur deretan cerita, Bukan tenggelam masih melayang tapi tak berbayang, Sayupan mata bayangan wajah bahkan percikan air tumpah emosi logika dan saling bertautan, Terkadang logika punya pemikirannya sendiri, Jangan menatap jika tak mampu menghapus
jangan menggenggam jika tak mampu menahan, Tatapan tajam hanya sekedar arti, Omong kosong yang berbelit menyita waktu dan semua alunan serta perkaranya, Nafas dan makna sekedar sisi lain? Angin, suara, jejak demi jejak bukan jawaban? Akhir kisah bukan cerita, Awal goresan bukan bayangan, Peralihan hitam menjadi putih dan bukan abstrak! 




   


                                                                                                                                       Yolanda Rizwany